Monday, May 20, 2013

Makalah Tentang Perubahan Post Mortem


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mati merupakan berhentinya kehidupan, seluruh organ vital berhenti bekerja. Ada beberapa istilah dipakai dalam berbagai keadaan yang mendekati mati. Misalnya: Mati suri yaitu keadaan seperti (menyerupai) mati, tetapi masih dapat diatasi dengan alat bantu aktifitas organ vital yang telah sangat melemah ; aktifitas susunan saraf pusat masih tampak walaupun lemah. Koma adalah keadaan tidak sadar diri, tidak dapat dibangunkan karena ada gangguan susunan saraf pusat akibat trauma kapatis berat, keracunan, gangguan keseimbangan elektrolit, apopleksia (Yunani : apoplexia = apoplexy = pendarahan interaknial yang berdampak timbulnya gejala mendadak -  serius dari aspek neurologi, seperti kelumpuhan alat gerak satu sisi atau pada kedua sisi disertai/ tanpa disertai gangguan atau sama sekali tidak bisa berbicara) ; kematian somatic (somatic dealt), keadaan dimana seluruh aktivitas berhenti.
Visum (tanda pernyataan) dokter (pemeriksaan dengan stetoskop), atas tidak terdengarnya lagi detak jantung dan suara pernafasan penderita yang dinyatakan mati. Perubahan post mortem dipengaruhi banyak faktor, seperti: ada tidaknya penyakit infeksi/ sepsis, ketegangan jiwa saat menjelang kematian, perbedaan suhu badan dengan suhu sekitar.


1.2 Rumusan Masalah
                Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan maslah dalam makalah ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1.              Apa pengertian dari Post Mortem ?
2.              Apa sajakah factor-faktor yang mempengaruhi perubahan pada kematian ?
1.3 Maksud dan Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka dapat disimpulkan bahwa maksud dan tujuan dari makalah ini ialah :
1.              Untuk mengetahui pengertian dari Post Mortem.
2.              Untuk mengetahui factor-faktor  yang mempengaruhi perubahan pada kematian.










BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perubahan Post Mortem
Seseorang dikatakan mati apabila jantung tidak berdenyut lagi dan pernafasan juga berhenti, akhirakhir ini terutama berhubungan dengan kemajuan dalam hal tranplantasi berbagai alat tubuh,  timbul pertentangan mengenai saatnya yang tepat seseorang dapat dinyatakan mati. Beberapa ahli berpendapat bahwa mendatarnya EEG (Electro Encephalo Gram) yang berarti berhentinya fungsi otak, dapat dianggap sebaga saat kematian, tanpa menghiraukan fungsi alat tubuh lainnya.
Kematian tubuh disebut juga somatic dealth, suatu kematian yang terjadi umum, jadi perlu dibedakan dengan kematian sel yang diikuti dengan nekrosis. Pada saat terjadi kematian umum mungkin masih terdapat sel dan jaringan yang masih sempat melanjutkan beberapa aktivitas, misalnya sel yang sedang bermitosis masih dapat menyelesaikan pembelahannya. Tetapi kemudian segala kegiatan pada jaringann dan sel akan terhenti sama sekali.
Kriteria diagnostik penentuan kematian :
1.      Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon terhadap komandoatau perintah, dan sebagainya).
2.      Tidak ada gerakan otot serta postur, dengan catatan pasien tidak sedang berada dibawah pengaruh obat-obatan curare.
3.      Tidak ada reflek pupil.
4.      Tidak ada reflek kornea.
5.      Tidak ada respon motorik dari saraf kranial terhadap rangsangan.
6.      Tidak ada reflek menelan atau batuk ketika tuba endotracheal didorong kedalam.
7.      Tidak ada reflek vestibulo-okularis terhadap rangsangan air es yangdimasukkan ke dalam lubang telinga.
8.      Tidak ada napas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukuplama walaupun pCO2 sudah melampaui wilayah ambang rangsangan napas(50 torr).

2.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi  Perubahan Pada Kematian
            Pada kematian tubuh terjadi serangkain perubahan. Perubahan-perubahan ini juga dipengaruhi oleh bermacam-macam factor. Diantaranya suhu sekitarnya, suhu tubuh pada saat terjadinya kematian dan adanya infeksi umum :
1.      Algor Mortis
Ialah perubahan suhu badan, sehingga suhu badan menjadi kurang lebih sama dengan suhusekitarnya, perubahan ini terjadi karena metabolism yang terhenti.
Gambar bisa dilihat di gambar 1.0
Algor.jpg
Gambar 1.0
2.      Rigor Mortis
Sesudah dua sampai tiga jam akan terjadi kaku mayat, yang disebabkan oleh otot-otot menjadi kaku akibat aglutinasi dan presipitasi protein pada otot-otot. Mula-mula terjadi pada otot-otot infolunter, diikuti oleh otot-otot volunter disekitar kepala dan leher, dan akhirnya menjalar keseluruh tubuh.kaku mayat biasanya menetap sampai 2-3 hari, dan kemudian menghilang. Kaku mayat timbul lebih cepat dan lebih keras dalam keadaan tertentu. Pergerakan yang banyak sebelum kematian ,misalnya prajurit dalam peperangan, demam yang tinggi, kecapaian dansuhu sekeliling yang tinggi,mempercepat terjadi nya kaku mayat. sebaiknya pada penderita yang sakit lama, cachexia, kaku mayat timbul lebih lambat.
Gambar bisa dilihat di gambar 2.0

Rigor Mortis.jpg
Gambar 2.0
3.              Livor Mortis
Perubahan warna terjadi karena sel-sel darah mengalami hemolysis dan darah turun ke tempat yang bawah, sehinggan mengakibatkan lebam-lebam mayat pada bagian-bagian terbawah. Karena pembusukan maka terbentuk sulfide. Biasanya sekitar usus.
Gambar bisa dilihat di gambar 3.0
Livor Mortiis.jpg
Gambar 3.0
4.              Pembekuan Darah
Terjadi segera setelah penderita meninggal. Dapat pula terjadi pada masa agoni (algonialclots). Beku darah yang terjadi setelah orang meninggal disebut post mortem clots, warnanya merah, elastic atau seperti agar – agar (cruor clots) dan beku darah ini tidak melekat erat pada dinding pembuluh darah jantung. Bila beku darah terbentuknya lambat, maka beku darah nampak  berlapis-lapis ; sel darah merah karena lebih berat merupakan lapis terbawah, diantaranya leukosit dan paling atas ialah lapis yang berwarna kuning terdiri atas plasma darah dan sedikit leukosit. Beku darah semacam ini terdapat di dalam jantung dan dapat di temukan pada bedah mayat.Bagian terbawah yang, merah dan mengandung eritrosit di sebut cruor clots dan bagian atas yangkuning karena menyerupai lemak ayam di sebut sebagai “chicken fat clot”.
5.              Pembusukan (putrefatiction) dan Autolysis
Akibat pengaruh fermen-fermen pada tubuh, jaringan mengalami autodigestion.
Pada jaringan tertentu seperti mukosa lambung, kandung empedu, autolysis cepat terjadi,karena itu biasanya tidak dapat diperoleh sediaan mikroskopik yangbaik. Pada umumnya makin tinggi ferensiasi jaringan, makin cepat autolysis. Sedangkan jaringan penyokong lebih awet. Pembusukan terjadi akibat masuknya kuman saprofitik, biasanya kuman ini berasal dari usus. Gas H2S maka jaringan sekitar usus tampak kehijauan.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Mati merupakan berhentinya kehidupan dikarenakan seluruh organ vital berhenti bekerja.
3.2 Kritik dan Saran
Allhamdulillah, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan tepat waktu. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Walaupun di dalamnya msasih banyak kekurangan, karena kami masih dalam tahap pembelajaran. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari rekan-rekan khususnya dan dari dosen pembimbing.
Post a Comment