Wednesday, March 20, 2013

Makalah Mekanisme Adaptasi Sel


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Patologi adalah salah satu dasar ilmu kedokteran, dan memiliki peranan yang sangat fundamental. Sering kali diagnosis pasti suatu penyakit ditegakkan dengan patologi (histopatologi). Sedakanangkan pengertian Patologi dalam arti yang luas adalah bagian dari ilmu kedokteranng yang mengamati sebab dan akibat dari terjadinya penyakit atau kelainan pada tubuh.
Mekanisme adaptasi sel terdiri dari organisasi sel yaitu unit kehidupan, kesatuan lahiriah yang terkecil menunjukkan bermacam-macam fenomena yang berhubungan dengan hidup.dan selalu berbuhungan dengan karakterristik makhluk hidup yaitu : bereproduksi, tumbuh, melakukan metabolisme dan beradaptasi terhadap perubahan internal dan eksternal.
1.2
 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah-masalah yang dibahas diantaranya adalah :
1.2.1 Apa pengertian dari Patologi ?
1.2.2 Apa pengertian dari adaptasi sel?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan yang diambil dari rumusan masalah tersebut :
1.3.1 Mengetahui pengertian dari Patologi
1.3.2 Mengetahui pengertian adaptasi sel

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Patologi
Patologi adalah salah satu dasar ilmu kedokteran, dan memiliki peranan yang sangat fundamental. Sering kali diagnosis pasti suatu penyakit ditegakkan dengan patologi (histopatologi). Sedangkan pengertian Patologi dalam arti yang luas adalah bagian dari ilmu kedokteran yang mengamati sebab dan akibat dari terjadinya penyakit atau kelainan pada tubuh.
Kata patologi berasal dari kata yunani : PATOS = keadaan ; LOGOS = ilmu. Jadi PATOLOGI diartikan mempelajari penyakit secara ilmu pengetahuan ( scientific method ).
2.2 Mekanisme Adaptasi Sel
Mekanisme adaptasi sel :
2.2.1 Organisasi sel
Yaitu unit kehidupan, kesatuan lahiriah yang terkecil menunjukkan bermacam-macam fenomena yang berhubungan dengan hidup.
Karakteristik mahkluk hidup :
a. Bereproduksi
b. Tumbuh
c. Melakukan metabolisme
d. Beradaptasi terhadap perubahan internal dan eksternal.
Aktifitas sel : sesuai dengan proses kehidupan, meliputi :
a. Ingesti – mengekskresikan sisa metabolisme
b. Asimilasi – bernafas – bergerak
c. Mencerna – mensintesis – berespon, dll


A. Struktur Sel
Sel mengandung struktur fisik yang terorganisasi yang dinamakan organel. Sel terdiri dari dua bagian utama : inti dan sitoplasma yang keduanya dipisahkan oleh membrane inti. Sitoplasma dipisahkan dengan cairan sekitarnya oleh membrane sel. Berbagai zat yang membentuk sel secara keseluruhan disebut protoplasma.
1.      Membrane Sel
Merupakan struktur elastis yang sangat tipis, penyaring selektif zat – zat tertentu.
2.      Membrane Inti
Merupakan dua membrane yang saling mengelilingi. Pada kedua membrane yang bersatu merupakan larut dapat bergerak antara cairan inti dan sitoplasma.
3.       Retikulum endoplasma, yang terdiri dari :
·         RE granular yang pd permukaannya melekat ribosom yg terutama mengandung RNA yg berfungsi dalam mensintesa protein.
·          RE agranular, tidak ada ribosom. Berfungsi untuk sintesa lipid dan enzimatik sel.
4.      Komplek golgi
Berhubungan dengan RE berfungsi memproses senyawa yg ditransfer RE kemudian disekresikan.
5.      Sitoplasma
Merupakan suatu medium cair banyak mengandung struktur organel sel
6.      Mitokondria
Merupakan organel yg disediakan untuk produksi energi dalam sel.
Di sini dioksidasi berbagai zat makanan. katabolisme / pernafasan sel.
7.      Lisosom
Merupakan bungkusan enzim pencernaan yg terikat membrane. Dan merupakan organ pencernaan sel.
8.      Sentriol
Merupakan struktur silindris kecil yg berperan penting pada pembelahan sel.
9.      Inti
Merupakan pusat pengawasan atau pengaturan sel. Mengandung DNA yg disebut gen.
10.  Nukleoli, merupakan struktur protein sederhana mengandung RNA. Jumlah dapat satu atau lebih.

B. Sistem Fungsional Sel
1. Penelanan dan pencernaan oleh sel.
Zat-zat dapat melewati membrane dengan cara :
·         Difusi
·         Transfor aktif melalui membrane
·         Endositosis, yaitu mekanisme membrane menelan cairan ekstra sel dan isinya. Tdd : fagositosis dan pinositosis.
penelanan partekil besar oleh sel seperti bakteri, partikel – partikel degeneratif jaringan. Fagositosis menelan sedikit cairan ekstra sel dan senyawa yang larut dalam bentuk vesikel kecil. Pinositosis
2.      Ekstrasi energi dari zat gizi (fungsi mitokondria). Oksigen menghasilkan energi yang dioksidasi dan zat gizi masuk dalam sel digunakan untuk membentuk ATP. 1ATP menghasilkan 8000 kalori.
2.2.2        Modalisasi cedera sel
Sel selalu terpajan terhadap kondisi yang selalu berubah dan potensial terhadap rangsangan yang merusak sel akan bereaksi :
·         Beradaptasi
·          Jejas / cidera reversible
·         Kematian
Sebab-sebab Jejas, Kematian dan Adaptasi sel :
1.      Hipoksia, akibat dari :
·         Hilangnya perbekalan darah karena gangguan aliran darah
·         Gangguan kardiorespirasi
·          Hilangnya kemampuan darah mengangkut oksigen. :anemia dan keracunan. Respon sel terhadap hipoksia tergantung pada tingkat keparahan hipoksia: sel-sel dapat menyesuaikan, terkena jejas, kematian.
Skema reaksi sel terhadap Jejas bisa dilihat di halaman 8.
2.      Bahan Kimia (obat – obatan )
Bahan kimia menyebabkan perubahan pada beberapa sel : permeabilitas selaput, homeostatis osmosa, keutuhan enzim kofaktor. Racun menyebabkan kerusakan hebat pada sel dan kematian individu.
3.      Agen Fisik
Dapat merusak sel. Traumamekanik, yang menyebabkan pergeseran organisasi intra sel.
a.       Suhu rendah
Gangguan suplai darah ( vasokontriksi ) suhu rendah membakar jaringan – suhu tinggi.
b.      Perubahan mendadak tekanan atsmofir, menyebabkan gangguan perbekalan darah untuk sel – sel individu. Tingginya gas – gas atsmofir terlarut dalam yang di bawah tekanan atsmofir darah. Jika mendadak kembali ke tekanan normal zat- zat akan terjebak keluar dari larutan secara cepat dan membentuk gelembung – gelembung jenis hipoksia. Menyumbat aliran darah dalam sirkulasi mikro.
c.       Tenaga radiasi, jejas akibat ionisasi langsung senyawa kimia yang ada di dalam sel atau karena ionisasi sel yang menghasilkan radikal “ panas “ yang secara sekunder bereaksi dengan komponen intra sel.
d.      Tenaga listrik, jika melewati tubuh akan menyebabkan : aritmi jantung luka bakar. Serta gangguan jalur konduksi saraf.
4.      Agen Mikrobiologi
Terdiri dari : Bakteri, virus, mikoplasma, klamidia, jamur dan protozoa. Merusak sel – sel penjamu. Mengeluarkan eksotosin, bakteri merangsang respon peradangan. Atau mengeluarkan endotoksin, reaksi immunologi yang merusak sel. Timbul reaksi hipersensitivitas terhadap gen.
Contoh penyakit : infeksi stafilokokus atau sterptococus, gonore, sifilis, kolera, dll. Virus mewariskan DNA, virus menyatu dengan DNA sel, setelah berada dalam sel virus akan mengambil alih fungsi sel. RNA virus gen – gen pada sel baru akan mengontrol fungsi sel.
Contoh penyakit : ensefalitis, campak jerman, rubella, poliomyelitis, hepatitis, dll.
5.      Mekanisme Imun
Reaksi imun sering di kenal sebagai penyebeb kerusakan dan penyakit pada sel. Antigen penyulut pada eksogen maupun endogen. Antigen endogen ( missal, antigen sel ) menyebabkan penyakit Autoimun.
6.      Gangguan Genetik
Mutasi, dapat menyebabkan : mengurangi suatu enzim, kelangsungan hidup sel tidak sesuai, atau tanpa dampak yang diketahui.
7.      Ketidak seimbangan Nutrisi
·         Defisiensi protein – kalori
·         Avitaminosis
·         Aterosklerosis, obesitas – kelebihan kalori
8.      Penuaan

 ADAPTASI SEL
Bentuk reaksi jaringan organ / system tubuh terhadap jejas :
1.      Retrogresif, jika terjadi proses kemunduran (degenerasi / kembali kearah yang kurang kompleks).
2.      Progresif, berkelanjutan berjalan terus kearah yang lebih buruk untuk penyakit.
3.      Adaptasi ( penyesuaian ) :
·         Atropi (Mengecil)
Yaitu pengecilan ukuran sel bagian tubuh yang pernah berkembang sempurna dengan ukuran normal.
·         Hipertropi (Membesar)
Yaitu peningkatan ukuran sel dan perubahan ini meningkatkan ukuran alat tubuh menjadi lebih besar dari pada ukuran normal.
·         Hiperplasia (Jumlahnya yang bertambah)
Yaitu dapat disebabkan oleh adanya stimulasi atau keadaan kekurangan secret atau produksi sel terkait.
·         Metaplasia (Bertambah dan berubah bentuk)
Yaitu bentuk adaptasi terjadinya perubahan sel matur jenis tertentu menjadi sel matur jenis lain.
·          Displasia (bertambah banyak dan pertumbuhan sel yang tidak beraturan)
Yaitu keadaan yang timbul pada sel dalam proses metaplasia berkepanjangan tanpa mereda dapat mengalami polarisasi pertumbuhan sel reserve.
·         Degenerasi
Yaitu keadaan terjadinya perubahan biokimia intraseluler yang disertai perubahan marfologik, akhibat jejas nin fatal pada sel.
·         Infiltrasi.

2.2.3    Sel yang diserang
Pengaruh stimulus yang menyebabkan cidera sel pada sel :
1.      Kerusakan biokimia, terjadi perubahan kimia dari salah satu reaksi metabolisme atau lebih di dalam sel.
2.      Kelainan fungsi, ( missal kegagalan kontraksi, sekresi sel atau lainnya ) cidera kelainan fungsi. Tetapi tidak semua, kerusakan biokimia pada sel. Jika sel banyak cidera, memiliki cadangan yang cukup sel tidak akan mengalami gangguan fungsi yang berarti.
3.      Perubahan morfologi sel. Yang menyertai kelainan biokimia dan kelainan fungsi. Tetapi saat ini masih ditemukan sel secara fungsional terganggu namun secara morfologi tidak memberikan petunjuk adanya kerusakan
4.      Pengurangan massa atau penyusutan
Pengurangan ukuran sel jaringan atau organ disebut atropi. Lebih kecil dari normal.
2.2.4   Perubahan morfologi pada sel yang cedera sub letal
Perubahan pada sel cidera sub letal bersifat reversible. Yaitu jika rangsangan dihentikan, maka sel kembali sehat. Tetapi sebaliknya jika tidak kematian sel dihentikan.
Perubahan sub letal pada sel disebut degenerasi atau perubahan degeneratif. Hal ini cenderung melibatkan sitoplasma sel, sedangkan nucleus mempertahankan integritas sel selama sel tidak mengalami cidera letal.
Bentuk perubahan degeneratif sel :
1. Pembentukan sel, gangguan kemampuan metabolisme pembentukan energi dam kerusakan membrane sel influk air ke peningkatan konsentrasi Na memompa ion Na menurun pembengkakan sel.
2. Penimbunan lipid intra sel, secara mokroskopis sitoplasma dari sel – sel yang terkena tampak bervakuola berisi lipid.
2.2.5    Kalsifikasi patologik
Klasifikasi : proses diletakkannya (pengendapan ) kalsium dalam jaringan pembentukan tulang.
Klasifikasi patologis merupakan proses yang sering juga menyatakan pengendapan abnormal garam – garam kalsium, disertai sedikit besi, magnesium dan garam – garam mineral lainnya dalam jaringan., yaitu :
·         Klasifikasi terjadi pada hiperkalsemi akhibat hipertiroid, tumor, atropi tulang, hipervitaminosis D, dll. Tanpa di dahului kerusakan jaringan. Proses klasifikasi pada jaringan yang telah mengalami kerusakan terlebih dahulu.
·         Klasifikasi distropi kerusakan dapat bersifat degenerasi atau nekrosis. Contoh : lithopedion, bayi membantu pada janin yang mati dalam kandungan.
·         Kalsinosis, terjadi kalsifikasi pada jaringan yang tampak normal atau yang menunjukkan kerusakan sistemik.
·         Pembentukan tulang heterotropik, meliputi 3 proses diatas disertai pergantian proses dari kalsifikasi menjadi pembentukan tulang, terjadi akhibat depo kalsium abnormal yang metaplasia kearah osteoblastik dan dapat merangsang sel fibroblast membentuk tulang.
·         Kalsifikasi pada pembuluh darah arteri, terjadi pada arteiosklerosis, ini termasuk kalsifikasi distropik.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Mekanisme adaptasi sel terdiri dari organisasi sel yaitu unit kehidupan, kesatuan lahiriah yang terkecil menunjukkan bermacam-macam fenomena yang berhubungan dengan hidup.dan selalu berhubungan dengan karakterristik makhluk hidup yaitu : bereproduksi, tumbuh, melakukan metabolisme dan beradaptasi terhadap perubahan internal dan eksternal.
3.2 Saran
Mekanisme adaptasi sel memiliki pembahasan yang luas, oleh ssebab itu maka perlu di pelajari dan di mengerti, sebagai dasar untuk mempelajari mata kuliah PATOLOGI. Supaya mahasiswa dapat lebih paham tentang materi perkuliahan berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Kimball, John W. 1998. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga.








Tuesday, March 5, 2013

Hak dan Kewajiban Perawat

Hak dan Kewajiban Perawat :
1. HAK Perawat :
  • Hak untuk mendapatkan Informasi yang lengkap dari klien.
  • Hak untuk menolak keinginan klien yang tidak sesuai dengan standar dan etik profesi keperawatan, contohnya menolak keninginan klien yang meminta untuk dibelikan gorengan.
  • Hak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
  • Hak untuk mengembangkan kemampuan diri, contohnya dengan mengikuti seminar atau pelatihan.
2. KEWAJIBAN Perawat :
  • Perawat wajib memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar praktek keperawatan, dan tanpa pandang bulu.
  • Perawat wajib kaloborasi dengan tenaga kesehatan lain, contohnya dengan ahli gizi, dll.
  • Perawat wajib menjaga privasi klien.
  • Perawat wajib membuat Dokumentasi asuhan keperawatan secara akurat dan berkesinambungan.

Jenis-jenis Tanggung Jawab Perawat


JENIS-JENIS TANGGUNG JAWAB PERAWAT :
Tanggung jawab (Responsibility) perawat dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Responsibility to God (tanggung jawab utama terhadap Tuhannya)
2. Responsibility to Client and Society (tanggung jawab terhadap klien dan masyarakat)
3. Responsibility to Colleague and Supervisor (tanggung jawab terhadap rekan sejawat dan
atasan)

A. Tanggung jawab perawat terhadap Tuhannya saat merawat klien
Dalam sudut pandang etika Normatif, tanggung jawab perawat yang paling utama adalah
tanggung jawab di hadapan Tuhannya. Sesungguhnya penglihatan, pendengaran dan hati akan
dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Tuhan. Dalam sudut pandang Etik pertanggung
jawaban perawat terhadap Tuhannya terutama yang menyangkut hal-hal berikut ini ;
1. Apakah perawat berangkat menuju tugasnya dengan niat ikhlas karena Allah ?
2. Apakah perawat mendo’akan klien selama dirawat dan memohon kepada Allah untuk
kesembuhannya ?
3. Apakah perawat mengajarkan kepada klien hikmah dari sakit ?
4. Apakah perawat menjelaskan mafaat do’a untuk kesembuhannya ?
5. Apakah perawat memfasilitasi klien untuk beribadah selama di RS?
6. Apakah perawat melakukan kolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan spiritual klien?
7. Apakah perawat mengantarkan klien dalam sakaratul maut menuju Khusnul khotimah?

B. Tanggung Jawab (Responsibility)perawat terhadap klien.
Tanggung jawab merupakan aspek penting dalam etika perawat. Tanggung jawab adalah
kesediaan seseorang untuk menyiapkan diri dalam menghadapi resiko terburuk sekalipun,
memberikan kompensasi atau informasi terhadap apa-apa yang sudah dilakukannya dalam
melaksanakan tugas.

Tanggung jawab seringkali bersipat retrospektif, artinya selalu berorientasi pada perilaku
perawat di masa lalu atau sesuatu yang sudah dilakukan. Tanggung jawab perawat terhadap klien
berfokus pada apa-apa yang sudah dilakukan perawat terhadap kliennya.
Perawat dituntut untuk bertanggung jawab dalam setiap tindakannya khususnya selama
melaksanakan tugas di rumah sakit, puskesmas, panti, klinik atau masyarakat. Meskipun tidak
dalam rangka tugas atau tidak sedang meklaksanakan dinas, perawat dituntut untuk bertangung
jawab dalam tugas-tugas yang melekat dalam diri perawat. Perawat memiliki peran dan fungsi
yang sudah disepakati. Perawat sudah berjanji dengan sumpah perawat bahwa ia akan senantiasa
melaksanakan tugas-tugasnya.
Contoh bentuk tanggung jawab perawat selama dinas; mengenal kondisi kliennya,
melakukan operan, memberikan perawatan selama jam dinas, tanggung jawab dalam
mendokumentasikan, bertanggung jawab dalam menjaga keselamatan klien, jumlah klien yang
sesuai dengan catatan dan pengawasannya, kadang-kadang ada klien pulang paksa atau pulang
tanpa pemberitahuan, bertanggung jawab bila ada klien tiba-tiba tensinya drop tanpa
sepengetahuan perawat. dsb.

Tanggung jawab perawat erat kaitanya dengan tugas-tugas perawat. Tugas perawat secara
umum adalah memenuhi kebutuhan dasar. Peran penting perawat adalah memberikan pelayanan
perawatan (care) atau memberikan perawatan (caring). Tugas perawat bukan untuk mengobati
(cure). Dalam pelaksanaan tugas di lapangan adakalanya perawat melakukan tugas dari profesi
lain seperti dokter, farmasi, ahli gizi, atau fisioterapi. Untuk tugas-tugas yang bukan tugas perwat
seperti pemberian obat maka tanggung jawab tersebut seringkali dikaitkan dengan siapa yang
memberikan tugas tersebut atau dengan siapa ia berkolaborasi. Dalam kasus kesalahan pemberian
obat maka perawat harus turut bertanggung-jawab, meskipun tanggung jawab utama ada pada
pemberi tugas atau atasan perawat, dalam istilah etika dikenal dengan Respondeath Superior.
Istilah tersebut merujuk pada tanggung jawab atasan terhadap perilaku salah yang dibuat
bawahannya sebagai akibat dari kesalahan dalam pendelegasian. Sebelum melakukan
pendelegasian seorang pimpinan atau ketua tim yang ditunjuk misalnya dokter harus melihat
pendidikan, skill, loyalitas, pengalaman dan kompetensi perawat agar tidak melakukan kesalahan
dan bisa bertanggung jawab bila salah melaksanakan pendelegasian.
Dalam pandangan Etika penting sekali memahami tugas perawat agar mampu memahami
tanggung jawabnya. Perawat perlu memahami konsep kebutuhan dasar manusia. Konsep
Kebutuhan dasar yang paling terkenal salah satunya menurut Maslow sebagai berikut :
Gambar 1. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Abraham Maslow.

Berdasarkan konsep kebutuhan dasar tersebut, perawat memegang tanggung jawab dalam
memenuhi kebutuhan dasar klien. Perawat diharapkan memandang klien sebagai mahluk unik
yang komprehensif dalam memberikan perawatan. Komprehensif artinya dalam memenuhi
kebutuhan dasar klien, tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisiknya atau psikologisnya saja, tetapi semua aspek menjadi tanggung jawab perawat. sebagai contoh ketika
merawat klien fraktur perawat tidak hanya memenuhi kebutuhan istirahat, rasa nyaman dan
terhindar dari nyeri (sleep and comport need), tetapi memandang klien sebagai mahluk utuh yang
berdampak pada gangguan psikologisnya seperti cemas, takut, sedih, terasing sebagai dampak
dari fraktur, atau masalah-masalah sosial seperti (tidak bisa bekerja, rindu pada keluarga, terpisah
dari teman, sampai masalah spiritual seperti berburuk sangka pada Allah, tidak mau berdo’a dan
perasaan berdosa.

Etika perawat melandasi perawat dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut. Dalam
pandangan etika keperawatan perawat memilki tanggung jawab (responsibility) terhadap-tugastugasnya
terutama keharusan memandang manusia sebagai mahluk yang utuh dan unik. Utuh
artinya memiliki kebutuhan dasar yang kompleks dan saling berkaitan antara kebutuhan satu
dengan lainnya, unik artinya setiap individu bersipat khas dan tidak bisa disamakan dengan
individu lainnya sehingga memerlukan pendekatan khusus kasus per kasus, karena klien memiliki
riwayat kelahiran, riwayat masa anak, pendidikan, hobby, pola asuh, lingkungan, pengalaman
traumatik, dan cita-cita yang berbeda. Kemampuan perawat memahami riwayat hidup klien yang
berbeda-beda dikenal dengan Ability to know Life span History dan kemampuan perawat dalam
memandang individu dalam rentang yang panjang dan berlainan dikenal dengan Holistic.

C. Tanggung jawab perawat terhadap rekan sejawat dan atasan
Ada beberapa hal yang berkaitan dengan tanggung jawab perawat terhadap rekan sejawat atau
atasan. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Membuat pencatatan yang lengkap (pendokumentasian) tentang kapan melakukan tindakan
keperawatan, berapa kali, dimana dengan cara apa dan siapa yang melakukan. Misalnya
perawat A melakuan pemasangan infus pada lengan kanan vena brchialis, dan pemberian
cairan RL sebanyak 5 labu, infus dicabut malam senin tanggal 30 juni 2007 jam 21.00.
keadaan umum klien Compos Mentis, T=120/80 mmHg, N=80x/m, R=28x/m
S=37C.kemudian dibubuhi tanda tangan dan nama jelas perawat.

2. Mengajarkan pengetahuan perawat terhadap perawat lain yang belum mampu atau belum
mahir melakukannya. Misalnya perawat belum mahir memasang EKG diajar oleh perawat
yang sudah mahir. Untuk melindungi masyarakat dari kesalahan, perawat baru dilatih oleh
perawat senior yang sudah mahir, meskipun secara akademik sudah dinyatakan kompeten
tetapi kondisi lingkungan dan lapangan seringkali menuntut adaptasi khusus.

3. Memberikan teguran bila rekan sejawat melakukan kesalahan atau menyalahi standar.
Perawat bertanggung jawab bila perawat lain merokok di ruangan, memalsukan obat,
mengambil barang klien yang bukan haknya, memalsukan tanda tangan, memungut uang di
luar prosedur resmi, melakukan tindakan keperawatan di luar standar, misalnya memasang
NGT tanpa menjaga sterilitas.

4. Memberikan kesaksian di pengadilan tentang suatu kasus yang dialami klien. Bila terjadi
gugatan akibat kasus-kasus malpraktek seperti aborsi, infeski nosokomial, kesalahan
diagnostik, kesalahan pemberian obat, klien terjatuh, overhidrasi, keracunan obat, over dosis
dsb. Perawat berkewajiban untuk menjadi saksi dengan menyertakan bukti-bukti yang
memadai.

SEMNAS STIKESMI


 BEM STIkesMI proudly present..
Seminar nasional kesehatan 2013
Tema: "trend issue kesehatan tentang aborsi,euthanasia, dan transplantasi organ yg d pandang dr berbagai aspek"
Pembicara: Delegasi kementrian RI dan praktisi kesehatan
Hr/tgl:minggu,28 April 2013
Waktu:07.30 sd selesai
Tempat: auditorium BBPBAT kota sukabumi jl selabintana No 78
Htm : mahasiswa 100rb &  umum 125rb
Fasilitas yg d dapat: seminar KIT, snack+lunch, doorprize, sertifikat terakreditasi
 SKP pusat IBI & PPNI.
Ayo bergabung dan daftar segera, peserta terbatas hanya 300 PESERTA.
pendaftaran mulai dr tgl 4 maret-21 april
Cp:
juliana 081321710990
Ira 085793934607

Monday, February 18, 2013

PROPOSAL PENELITIAN (Resiko & Bahaya Masuknya Emboli ke Vena)


GAMBARAN PENGETAHUAN MAHASISWA STIKES KOTA SUKABUMI TINGKAT 1 TENTANG EMBOLI DAN BAHAYA EMBOLI MASUK KE VENA

Proposal Penelitian ini  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Bahasa Indonesia
427163_205713139534584_83552779_n.jpg
Disusun Oleh
Siti Nurmaya
Sukaryat
Taufik Ali Sodikin
Topan Heigi


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KOTA SUKABUMI
2013

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
            Emboli adalah gelembung udara yang sering terdapat pada selang infus. Pada pemasangan selang infus, perawat sering melalaikan dalam hal pemasangannya, padahal kalau tidak hati-hati, bias saja cairan yang terdapat pada selang infusnya mengandung emboli yang dapat masuk ke pembuluh darah kapan saja. Ketika emboli tersebut masuk ke pembuluh darah, maka akan mengakibatkan penyakit baru pada pasien tersebut, bahkan dapat mengakibatkan kematian.
            Emboli yang masuk ke dalam pembuluh darah vena dapat menjadi emboli udara vena. Emboli udara tersebut akan terbawa aliran darah, masuk ke dalam ruang serambi dan bilik kanan jantung. Dari sana, emboli tersebut dapat terbawa terus ke pembuluh darah arteri paru sehingga mengganggu pertukaran gas di sana, menyebabkan gangguan irama jantung, hipertensi pembuluh darah paru, dan bahkan gagal jantung serta henti jantung. Jika emboli yang ada besar, emboli tersebut dapat menyebabkan sumbatan pada serambi serta bilik jantung, sehingga terjadi obstruksi aliran darah sehingga darah yang dipompa jantung pun berkurang.
Oleh karena itu, sebaiknya ketika seorang perawat sedang memasang selang infus kepada pasiennya, haruslah berhati-hati, supaya tidak menimbulkan emboli pada selang infus tersebut. Apabila ketika memasang infus terdapat emboli, maka segeralah naikan emboli tersebut dengan cara disentil. Maka dengan cara tersebut, emboli yang terdapat pada selang infusnya akan naik dan perlahan-lahan akan hilang dengan sendirinya.
B. STUDI PENDAHULUAN
            Setelah kami teliti, dari 10 Mahasiswa tingkat 1 yang kami wawancarai, 1 mahasiswa mengetahui bahaya masuknya emboli ke pembuluh darah, dan 9 lagi tidak mmengetahuinya, bahkan mereka pun tidak mengetahui apa itu yang dinamakan emboli.
C. RUMUSAN MASALAH
            “Apakah mahasiswa tingkat 1 sudah mengetahui gambaran tentang apa itu emboli dan bahayanya apabila emboli tersebut masuk  ke pembuluh darah ?”
D. TUJUAN UMUM KHUSUS
            Untuk memberikan gambaran kepada mahasiswa tingkat 1 tentang apa itu emboli, dan apa resikonya apabila emboli tersebut masuk ke pembuluh darah.
E. MANFAAT
            Supaya mahasiswa tingkat 1 lebih paham apa itu yang dinamakan emboli, dan bahayanya apabila masuk ke pembuluh darah (vena).


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Pengetahuan
  1. Pengertian Pengetahuan
            Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yang terdiri dari indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan merupakan dominan yang sangat penting dalam terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
  2. Tingkatan Pengetahuan
            Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003), tingkat pengetahuan dibagi atas 6 tingkatan domain kognitif yaitru :
a.       Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau diterima.
b.      Memahami (Comprehention)
Memahami di artikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan sacara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c.       Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk enggunakan materi yang twelah di pelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya), aplikasi disini dapat di artikan dalam konteks atau situasi lain.
d.      Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e.       Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampua untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan untuk menyusun formulasi yang baru dan formulasi-formulasi yang ada.
f.       Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilain terhadap suatu materi atau obyek. Penilain-penilain ini di dasarkan suatu kriteria yang di tentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada.
B. Konsep Dasar Emboli
  1. Pengertian Emboli
            Emboli adalah gelembung udara yang sering terdapat pada selang infuse. Apabila ada emboli yang masuk ke dalam pembuluh darah vena, maka dapat menjadi emboli udara vena. Emboli udara tersebut akan terbawa aliran darah, masuk ke dalam ruang serambi dan bilik kanan jantung. Dari sana, emboli tersebut dapat terbawa terus ke pembuluh darah arteri paru sehingga mengganggu pertukaran gas di sana, menyebabkan gangguan irama jantung, hipertensi pembuluh darah paru, dan bahkan gagal jantung serta henti jantung. Jika emboli yang ada besar, emboli tersebut dapat menyebabkan sumbatan pada serambi serta bilik jantung, sehingga terjadi obstruksi aliran darah sehingga darah yang dipompa jantung pun berkurang.
            Walaupun literatur menyebutkan bahwa untuk menimbulkan komplikasi berat, jumlah udara yang masuk harus banyak, ada kejadian dimana udara sesedikit 0,5 ml yang masuk ke pembuluh darah yang mempendarahi jantung dapat menyebabkan gangguan irama jantung. Sedangkan henti jantung dilaporkan terjadi sewaktu udara sebanyak 20 ml tidak sengaja masuk ke dalam pembuluh darah vena (20 ml sama dengan isi udara dalam satu selang infus). Karena itu, sebaiknya pemberian obat melalui pembuluh darah (injeksi) ataupun pemberian cairan dengan infus harus sangat berhati-hati.
  2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Emboli Pada Selang Infus
            Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu :
1.      Adanya keteledoran perawat saat memasukan cairan infusnya.
2.      Adanya selang infus yang membelit ketika pas dimasukannya cairan.
3.      Adanya keteledoran perawat ketika memasukan jarum infusnya ke vena, karena apabila memasukannya tidak bagus, cairan yang terdapat didalam infus akan terangsang menjadi sebuah gelembung (emboli).
  3. Masalah Yang Akan Timbul Akibat Masuknya Emboli Ke Dalam Pembuluh Darah (Vena)
Masalah yang akan timbul yaitu :
1.      Emboli udara yang masuk akan terbawa aliran darah, masuk ke dalam ruang serambi dan bilik kanan jantung. Dari sana, emboli tersebut dapat terbawa terus ke pembuluh darah arteri paru sehingga mengganggu pertukaran gas di sana.
2.      Menyebabkan gangguan irama jantung.
3.      Hipertensi pembuluh darah paru.
4.      Gagal jantung/ henti jantung yang dapat mengakibatkan kematian.



BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
            Jenis penelitiannya disini dengan cara mencari informasi dari orang-orang yang sudah tahu terlebih dahulu, tentang informasi ini, seperti bertanya kepada senior-senior tingkat 3, dan sebagiannya lagi saya cari di internet. Kemudian setelah di teliti lebih lanjut, dengan data-data yang kuat, ternyata memang fakta bahwa apabila emboli itu dapat mengakibatkan penyakit baru bahkan kematian apabila si emboli tersebut masuk ke pembuluh darah.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
            1. Lokasi Penelitian
                 Penelitian dilaksanakan di Jalan Gotong Royong kelurahan Keramat Kota Sukabumi.
            2. Waktu Penelitian
            Penelitian dilaksanakan pada tanggal 8-15 Januari 2013.
C. Teknik Pengumpulan Data
  1. Jenis Data
                 a. Data Primer
     Data primer menurut Istijanto (2005) adalah data asli yang dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab masalah risetnya secara khusus. Data primer dalam penelitian ini merupakan data yang di dapat secara langsung dari jawaban responden melalui kuesioner. Dan disini kami mengumpulkan data dari jawaban senior-senior tingkat 3 yang saya tanya.
  2. Pengumpulan Data
                 Alat pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner.
Kuesioner menurut Arikunto (2010) adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Seperti yang kita lakukan kepada senior-senior tingkat 3.

D. Instrumen Penelitian
            Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2010).  Seperti yang kami lakukan, kami dibantu laptop, browsing ke internet, untuk mencari sumber-sumber, sehingga saya dapat lebih mudah dan lebih paham akan bahaya dari emboli tersebut. Sehingga memudahkan kami dalam melakukan penelitiannya.
E. Prosedur Penelitian Yang Dilaksanakan
  1. Tahap Persiapan
            Langkah 1       : Menentukan atau memilih masalah
            Langkah 2       : Merumuskan masalah
            Langkah 3       : Menentukan tujuan
            Langkah 4       : Menentukan kegunaan penelitian
            Langkah 5       : Menentukan kerangka pemikiran
            Langkah 6       : Menentukan jenis penelitian
            Langkah 7       : Menentukan lokasi dan waktu
            Langkah 8       : Menyusun teknik pengumpulan data
  2. Tahap Pelaksanaan
  3. Tahap Pelaporan
F. Etika Penelitian
            Dalam melakukan penelitian, seorang peneliti harus memperhatikan aspek etika. Kaidah dasar etika penelitian (Hidayat, 2007) :
1.      Menghormati Martabat
Penelitian yang dilakukan harus menjungjung tinggi martabat seseorang (subjek penelitian) dalam melakukan penelitian,hak asasi subjek harus dihargai.
2.      Asas Kemanfaatan
Penelitian yang dilakukan harus mempertimbangkan manfaat dan resiko yang mungkin terjadi. Penelitian dapat dilakukan apabila manfaat yang diperoleh lebih besar daripada resiko yang akan terjadi.
3.      Berkeadilan
Perlakuan yang diberikan sama dalam artian setiap orang diberlakukan sama berdasar moral, martabat dan hak asasi manusia.
4.      Informed Consent
Subjek penelitian harus menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian dengan mengisi informed consent.
5.      Aspek Kerahasiaan
Data yang diperoleh dari subjek yang harus dijamin kerahasiaannya dan penggunaan data tersebut hanya untuk kepentingan penelitian saja.